jump to navigation

3 Mei 2008 Juni 7, 2008

Posted by pemudagkkk in Uncategorized.
trackback

SUAM-SUAM KUKU

by: Pak Sum Hadianto

Bacaan: Wahyu 3:14-22

Ada 3 jenis kondisi jemaat Tuhan:

1. Panas: meluap-luap, berkobar dlam Tuhan

2. Dingin: mati, tidak bergerak, stagnan, jauh dari Tuhan

3. Suam-suam kuku:

  • tidak berdosa, tetapi juga tidak melakukan apa-apa untuk Tuhan
  • membuat orang buta matanya. Ia puas dengan keberadaannya, berpikir bahwa dirinya kaya dan tidak menyadari bahwa dirinya miskin.
  • sulit ditegur, tidak ‘merasa’ saat ditegur. Bahkan ia cenderung berpikir kalau teguran itu lebih cocok untuk orang lain.

Orang yang suam-suam kuku adalah orang-orang yang mengaku mengenal Allah namun perbuatannya menyangkal Dia. Contoh orang yang suam-suam kuku dalam zaman Yesus adalah orang Farisi. Yesus menyebut mereka munafik, dan berkata kepada mereka, sesuai nubuatan Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya padahal hatinya jauh dari padaKu” (Markus 7:6)

Saat kita meneladani Tuhan yaitu dengan berbuat baik, seharusnya hati kita melekat pada Tuhan

Tuhan tidak suka yang kondisi jemaat yang suam-suam kuku, makanya Dia berkata, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku”. Ia mau kita itu ‘jelas’, PANAS atau DINGIN. Kalau PANAS, Ia dapat memberkati kita, tapi kalau DINGIN, Ia dapat mendisiplin kita sehingga kita bertobat. Jadi, sadarilah keadaan diri kita yang sesungguhnya, dan datang kepada Tuhan. “… maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian utih supaya engkau memainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” Tanpa mengakui keadaan diri kita yang sesungguhnya, kita tidak akan bertobat.

Amsal 3: 5-6 merupakan kunci supaya kita BEBAS dari keadaan suam-suam kuku:

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Mengapa kita mempercayai Tuhan dengan segenap hati kita, bukan dengan otak/ pemikiran kita? Karena hati merupakan tempat di mana perasaan dan kehendak berpusat. Hati juga merupakan tempat di mana Roh Kudus bekerja. Pengertian intelektual kita tidak akan mengubah kehidupan kita. Firmannya yang bekerja dalam hati kita lah yang akan mengubah hidup kita.

Karena itu kita harus mengaminkan firman Tuhan dan melakukannya dalam hidup kita. Pak Sum Hadianto memberikan contoh, untuk menang atas dosa, kita dapat menggunakan Roma 6:4 (“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru”). Filipi 4:6-7 untuk menang atas kekhawatiran, dan Amsal 31:30 untuk menjaga diri supaya tidak terjatuh dalam dosa perzinahan.

Alah menciptakan kita untuk menjadi wadah tempat Allah menaruh berkat Ilahi. Karena itu, datanglah dalam bejana yang kosong kepada Allah.

KESIMPULANNYA, supaya kita tidak jatuh dalam keadaan suam-suam kuku kita harus:

  • Tertib dalam kehidupan berjuang. Kolose 3:23 berkata, “Apapun juga yang perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Itu artinya setiap aspek kehidupan kita adalah untuk Tuhan. Karena itu kita harus berjuang dalam setiap aspek kehidupan.
  • Mengandalkan kuasa Roh Kudus Tuhan
  • Persekutuan dengan orang lain untuk saling mendukung,mendorong, menguatkan
  • Memandang kehidupan sebagai pertandingan dengan diri sendiri. Pertandingan adalah dengan diri sendiri. To be my best, sesuai dengan karunia dan berkat yang Tuhan percayakan dalam hidup setiap kita.

Pak Sum berkata orang yang berjuang bersama Tuhan, walaupun hasilnya tidak sebaik orang yang memang bertalenta tapi malas-malasan, akan mendapat nilai yang jauh lebih tinggi di mata Tuhan. Apabila kita berhenti berjuang, berarti kita dalam kondisi suam-suam kuku. Janganlah kita hanya mengerti tapi juga berbuat sesuatu sesuai kehendak Tuhan.

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: